Kamis, 28 Maret 2013

Apa itu Bullying ?





Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena bullying mulai mendapat perhatian peneliti, pendidik, orgaisasi perlindungan, tokoh masyarakat dan publik figur.
Di tahun 2002, U.S. Secret Service merilis laporan yang menyimpulkan bahwa bullying berperan penting dalam banyak kasus penembakan di sekolah, sehingga harus ada upaya untuk menlenyapkan perilaku bullying.
Secara harfiah, kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.  Cara mengganggunya antara lain dengan mengejek, menyebarkan rumor/menghasut, mengucilkan, menakut-nakuti (intimidasi), mengancam, menindas, memalak, atau menganiaya secara fisik (mendorong, menampar, memukul).
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa perilaku bullying tersebut merupakan hal sepele atau bahkan “normal” dalam tahap kehidupan manusia dan dalam kehidupan sehari-hari.
Faktanya, perilaku bullying merupakan “learned behaviors” yang bisa dirubah karena manusia tidak terlahir sebagai penggertak dan pengganggu yang lemah. Bullying merupakan perilaku tidak “normal”, tidak sehat dan secara sosial tidak bisa diterima.
Hal yang sepele pun kalau dilakukan berulang kali pada akhirnya dapat meminmbulkan dampak serius dan fatal. Dengan membiarkan atau menerima perilaku bullying, kita memberikan “bullies power” kepada pelaku bullying, membiarkan interaksi atau komunitas sosial yang tidak sehat dan meningkatkan budaya kekerasan.
Komunitas yang tidak sehat dapat menghambat pengembangan potensi diri secara optimal sehingga memandulkan budaya berprestasi.
Definisi Bullying
Bullying adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang secara berulang yang memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) secara mental atau secara fisik.
Berdasarkan definisi tersebut, bullying terjadi karena:
1. Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku bulying dan target (korban). ketidakseimbangan kekuatan ini bisa berupa ukuran badan, kekuatan fisik, kepandaian bicara atau pandai bersilat lidah, gender (jenis kelamin), status sosial, perasaan lebih superior, dst.
Unsur ketidakseimbangan kekuatan inilah yang membedakan bullying
dengan bentuk konflik yang lain. Dalam konflik antar dua orang yang kekuatannya sama, masing-masing memiliki kemampuan untuk menawarkan solusi dan berkompromi untuk menyelesaikan masalah.
Dalam kasus bullying, ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku bullying dan korbannya menghalangi keduanya untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri, sehingga perlu kehadiran pihak ketiga. Sebagai contoh, anak kecil yang mendapat perlakuan bullying dari teman sebayanya, perlu bantuan orang dewasa.
2. Adanya perilaku tidak wajar (penyalahgunaan) ketidakseimbangan kekuatan tersebut dengan cara mengganggu, menyerang secara berulang kali, atau dengan cara mengucilkan (mendiamkan).
Type dan Perilaku Bullying
Bullying dapat terjadi dilingkungan mana saja dimana terjadi interaksi sosial antar manusia, antara lain;
Sekolah (School bullying) dan kampus. Tempat Kerja (Workplace bullying) dan lingkungan masyarakat (Preman, gang motor). Secara online (Cyberbullying), Lingkungan Politik (Political bullying), Lingkungan Militer (Military bullying), dan dalam Perpeloncoan.
Perilaku bullying antara lain, berupa kekerasan fisik (mendorong, menendang, memukul, menampar). Secara verbal (Misalnya panggilan yang bersifat mengejek atau celaan). Secara mental (mengancam, intimidasi, pemerasan, pemalakan). Secara sosial, misalnya menghasut dan mengucilkan. Gangguan melalui medium teknologi (SMS, email, online forum, blog).
Karakteristik Bullies
Berdasarkan penelitian, remaja pelaku bullying mempunyai kepribadian otoriter, ingin dipatuhi secara mutlak dan kebutuhan kuat untuk mengontrol dan mengusai orang lain.
Ciri-ciri seorang bully, antara lain:
Mencoba untuk menguasai orang lain. Hanya peduli dengan keinginannya sendiri, Sulit melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan Kurang ber-empaty terhadap perasaan orang lain. Pola perilakunya impulsif, agresif, intimidatif dan suka memukul.
Motivasi seseorang untuk melakukan bullying bisa berdasarkan perasaan iri, kebencian dan dendam.  Bisa juga karena menyembunyikan rasa malu dan kegelisahan, atau untuk mendorong rasa percaya diri dengan mennganggap orang lain tidak ada artinya.
Karakter bullying seringkali dikaitkan dengan preman, gang jalanan atau gang motor.
Akibat Negatif Bullying
Dalam jangka panjang, Korban bullying dapat menderita karena masalah emosional dan perilaku. Bullying dapat menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, perasaan harga diri yang rendah, depresi atau menderita stress yang dapat berakhir dengan bunuh diri.
Gejala seorang anak/siswa yang menjadi korban bullying diantaranya:
Mengalami luka (berdarah, memar, goresan), sakit kepala/sakit perut, atau barang miliknya mengalami kerusakan. Tidak mau pergi ke sekolah, merubah rute pergi ke sekolah, atau prestasi sekolahnya menurun.
Menarik diri dari pergaulan, merasa malu/segan,  tidak mau berpartisipasi lagi dalam kegiatan yang biasanya disukainya.  Gelisah, muram, menjadi agresif dengan melakukan bullying kepada saudara kandung atau bahkan mengancam/mencoba melakukan bunuh diri.
Strategi pencegahan
Di beberapa negara maju, antara lain Australia, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat, masalah bullying telah mendapat perhatian pemerintah masing-masing dengan membuat undang-undang atau peraturan. Selain itu, disetiap sekolah dan perguruan tingginya diadakan kebijakan program anti-bullying.
Program tersebut melibatkan pihak sekolah, konselor, orang tua dan siswa dengan memberikan penyuluhan tentang apa itu perilaku bullying dan akibatnya. Bagaimana strategi pencegahan dan cara menghadapi kejadian bullying.

source : http://uniqpost.com/50241/negara-negara-dengan-kasus-bullying-tertinggi-indonesia-di-urutan-ke-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar